KEMISKINAN
Akankah
Terwujud Dunia Tanpa Kemiskinan
Dan Meraih
Suistainable Di 2030?
Ø Pendahuluan
Menurut wikipedia KEMISKINAN adalah keadaan di mana terjadi
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat
berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh
kelangkaan alat pemenuh kebuutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang
memahami istilah ini secara subyektif dan komperatif, sementara yang lainya
melihat kondisi tersebut dari segi moral dan evaluatif, kemudian ada yang
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan, berpendidikan dan lain
sebagainya.
Sampai
saat ini kemiskinan masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian
orang di penjuru dunia, karena kebanyakan dari mereka berfikir dan berasumsi
bahwa kemiskinan merupakan keadaan dimana seseorang tidak akan mendapat
kebahagiaan serta kesejahteraan dalam hidupnya.
Kemiskinan dapat dikelompokan menjadi dua kategori, yaitu
Kemiskinan Absolut dan Kemiskinan relatif.
Declarasi
copenhagen menjelaskan, kemiskinan absolut sebagai sebuah kondisi yang
dicirikan dengan kekurangan parah kebutuhan manusia, termasuk makanan, air
minum yang aman, fasilitas sanitasi, kesehatan, rumah, pendidikan, dan
informasi. Sedangkan kemiskinan Relatif merupakan kondisi yang terpengaruh
karena kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan
masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan ditribusi pendapatan. Standar
minimum diususun berdasarkan kondisi hidup suatu negara pada kondisi tertentu
dan perhatian hanya terfokus pada golongan penduduk “termiskin”.
Kemudian bagaimana Dunia menanggapi masalah kemiskinan yang akan
terus melanda di seluruh dunia ?? lalu apa saja langkah yang harus dilakukan
untuk mencegahnya? Dan apa saja solusi untuk mencapai tujuan Dunia tanpa Kemiskinan?..
itu semua akan saya bahas tuntas dalam tulisan ini yang akan di sertai dengan
data dan hasil analisa dari berbagai sumber yang akurat dan terpercaya.
Ø Hasil Penelitian/Analisa
Salah satu lembaga yang fokus untuk memerangi
kemiskinan adalah The World Bank (Bank Dunia) lembaga nirlaba ini memiliki
komitmen menuntaskan seluruh kemiskinan di muka bumi ini pada tahun 2030.
Bank Dunia merilis lebih dari 700 juta orang dari seluruh
masyarakat Dunia masih hidup dalam kemiskinan yang cukup ekstrim.
Dalam publikasi yang dirilis Bank Dunia, seperti dikutip, Selasa
(31/10/2017), dalam laporan Poverty and Shared Prosperity akhir tahun lalu,
ternyata 10,7% dari populasi global berada dalam jurang kemiskinan. Tercatat
767 juta orang hidup di bawah garis internasional kemiskinan. Di mana mereka
mencukupi kebutuhannya dengan pengeluaran US$ 1,90 per hari atau sekitar Rp
25.000 per harinya.
"Hampir 11 orang dari setiap 100 orang di dunia atau 10,7% dari total populasi global berada di bawah garis kemiskinan yang paling dalam," demikian dikutip dalam laporan Bank Dunia.
"Hampir 11 orang dari setiap 100 orang di dunia atau 10,7% dari total populasi global berada di bawah garis kemiskinan yang paling dalam," demikian dikutip dalam laporan Bank Dunia.
Jumlah orang miskin paling banyak berada di wilayah sub-sahara Afrika di
mana mencapai 388,7 juta orang. Sedangkan kedua, ada di Asia bagian Selatan di
mana mencapai 256,2 juta orang. Asia bagian timur dan pasifik menjadi peringkat
ketiga di mana mencapai 71 juta orang disusul Amerika Latin dan Karibia yang
tercatat sebanyak 33,6 juta orang. Adapun bagian Eropa dan Asia Tengah tercatat
yang paling rendah di mana sebanyak 10,8 juta.
Namun
angka tersebut turun 13% dari tahun sebelumnya, akan tetapi masih mencakup
lebih dari 10% populasi dunia.
Angka tersebut seluruhnya masih jauh lebih baik
dibandingkan satu dekade terakhir. Tercatat sebanyak 1,1 miliar orang sudah
berhasil meninggalkan jurang kemiskinan sejak tahun 1990. Kurang lebih,
sebanyak 250.000 orang setiap harinya mampu melangkah dari jurang tersebut.
Dan Sangat
disayangkan bahwa 44% dari total orang miskin ini adalah anak-anak berumur 14
tahun ke bawah. 80% tinggal di daerah kumuh, dan 39% tidak mendapatkan
pendidikan formal.
Bank Dunia juga memperingatkan, situasi di masa depan akan
jauh lebih sulit untuk pengentasan kemiskinan, antara lain karena pertumbuhan
melambat akibat kelesuan ekonomi global, dan karena kemiskinan ekstrem bisa diperburuk
oleh konflik di Timur Tengah dan Afrika.
Dari data yang tercatat diatas dapat kita lihat bahwa kemiskinan
yang paling parah terdapat di negara-negara berkembang, hal itu berdasarkan
stigma yang dapat dilihat dari kondisi kolektif masyarakat miskin, dan dalam
pengertia ini keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin, untuk
menghindari stigma tersebut kemudian disebut sebagai negara berkembang. Seperti
yang dapat dilihat pada peta berikut :
Berkas ini berasal dari Wikimedia Commons
Peta dunia memperlihatkan persentase manusia
yang hidup di bawah batas kemiskinan internasional.
Perhatikan bahwa garis batas ini sangat berbeda-beda menurut masing-masing
negara, sehingga kita sulit membuat perbandingan.
Kemiskinan dapat dipahami dalam berbagai gambaran,
diantaranya :
¨
Gambaran
kekurangan materi, mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, tempat tinggal,
dan pelayanan kesehatan. Hal ini dipahami sebagai situasi kelangkaan
barang-barang dan pelayanan dasar.
¨
Gambaran
kebutuhan sosial termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan
ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk
pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya mencakup masalah-masalah
politik dan moral sehingga dibedakan dalam hal kemiskinan karena tidak dibatasi
pada bidang ekonomi, gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada
gambaran lainya.
¨
Gambaran
tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” disini
sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik diseluruh dunia. Namun
gambaran kemiskinan semacam ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan
yang lebih.
Penyebab Kemiskinan dapat terlihat dari
beberapa faktor, diantaranya :
¨
Penyebab
individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
perilaku, pilihan atau kemampuan dari si miskin. Contohnya adalah penggunaan
keuangan yang tidak mengukur pemasukan.
¨
Penyebab
Keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. Penyebab
keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan
pemasukan keuangan keluarga.
¨
Penyebab
Sub-Budaya (Subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan
sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. Individu atau
keluarga yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga contohnya.
¨
Penyebab
agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi oranglain, termasuk
perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi oranglain adalah gaji atau
honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain. Contoh lainya adalah
perbudakan.
¨
Penyebab
Struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari
struktur sosial.
Bank Dunia juga menyoroti ketimpangan sebagai
musuh utama upaya pengentasan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi tidak secara
otomatis menghapuskan ketimpangan, demikian ditekankan. Negara yang paling
sukses menghilangkan kemiskinan adalah mereka yang menerapkan kebijakan untuk
memastikan, bahwa 40 persen penduduk termiskin bisa menikmati keuntungan
terbesar dari pertumbuhan ekonomi.
"Semakin besar pertumbuhan pendapatan pada
masyarakat dalam kelompok 40 persen itu, maka semakin cepat tingkat kemakmuran
bisa mengubah kehidupan warga miskin dalam masyarakat", demikian pernyataan
Bank Dunia. Tetapi jika keuntungan dari pertumbuhan ekonomi hanya
terkonsentrasi pada kelompok masyarakat dengan situasi ekonomi yang sudah
relatif baik, kemiskinan ekstrem akan tetap bertahan, tulis laporan itu
selanjutnya.
Francisco Ferreira, pengawas program penelitian Bank Dunia
tentang kemiskinan, ketimpangan dan pertanian, mengatakan bahwa sementara
ketimpangan meningkat di beberapa negara industri maju, sejumlah negara
diambang kemajuan berhasil membagikan hasil pertumbuhan kepada kaum miskin.
Bank Dunia memuji keberhasilan di Brasil, Kamboja, Mali, Peru dan Tanzania.
Sebagimana yang telah dilaporkan
oleh Bank Dunia bahwa kemiskinan bisa diakibatkan karena pertumbuhan ekonomi
yang tidak dibarengi dengan penghapusan ketimpangan sosial dari segi sumber
daya manusia yang masih kurang dibeberapa negara dan tidak meratanya struktur
sosial di masyarakat.
Hal itu bisa diukur berdasarkan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Developement Index (HDI), yang merupakan
pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan
standar hidup.
IPM
digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah Negara
Maju, Negara
Berkembang Atau Negara Terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan
ekonomi terhadap kualitas hidup.
Berikut adalah peta Indeks Pembangunan Manusia
dibeberapa negara :
Berkas ini berasal dari Wikimedia Commons
Peta dunia yang menunjukkan Indeks
Pembangunan Manusia (didasarkan pada data 2007 yang dipublikasikan pada 5
Oktober 2009)
di atas 0,950
0,900–0,949
0,850–0,899
0,800–0,849
0,750–0,799
|
0,700–0,749
0,650–0,699
0,600–0,649
0,550–0,599
0,500–0,549
|
0,450–0,499
0,400–0,449
0,350–0,399
di bawah 0,350
tak tersedia
|
Negara-negara terbagi dalam empat kategori
berdasarkan IPM-nya: sangat tinggi (kategori baru yang ditambahkan pada laporan
untuk tahun 2007), tinggi, menengah dan rendah. Mulai dari laporan untuk tahun 2007, kategori
pembanguan manusia yang sangat tinggi dirujuk sebagai negara maju, sedangkan sisanya dikelompokkan
sebagai negara berkembang.
Bank
Dunia memuji kemajuan program pengentasan
kemiskinan di Asia, termasuk di
Indonesia. sekalipun kelesuan ekonomi global
masih membayang, namun angka kemiskinan ekstrim pun menurun seiring dengan Kenaikan pendapatan warga terutama terjadi di
Asia, yaitu di di Cina, India dan Indonesia. Perkembangan itu telah mendorong
penurunan drastis dalam kemiskinan dunia, kata Bank Dunia.
Lembaga nirlaba Oxfam belum lama ini juga melaporkan setiap
dua hari tercipta miliarder baru selama periode maret 2016-maret 2017. Dari
data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan miliarder di dunia
menjadi sangat cepat.
Perilisan informasi tersebut bertepatan dengan momen ketika
para pemimpin politik dan bisnis berkumpul di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di
davos, Swis. Sebaliknya dibalik ingar biingar pertumbuhan miliarder yang cepat
ternyata jumlah populasi yang terjerat kemiskinan pun masih ada.
Namun Bank Dunia juga mengingatkan, upaya
pengentasan kemiskinan global hingga tahun 2030 bisa terhambat, jika
pertumbuhan ekonomi malah lebih banyak menghasilkan ketimpangan daripada
pemerataan.
Disisi lain Bank Dunia juga akan terus membangun pertumbuhan
ekonomi untuk mencapai kesejahteraan yang merata diseluruh dunia dengan terus
meningkatkan sumber daya manusia yang seimbang dengan pemerataan sosial yang
terjadi dimasyarakat tanpa ada ketimpangan sosial yang akan menghambat
penurunan angka kemiskinan di dunia.
Sehingga akan tercapai tujuan Dunia tanpa Kemiskinan ditahun
2030 untuk mencapai kesejahteraan sosial yang seimbang dan merata diseluruh
penjuru Dunia akan terpenuhi .
Hal tersebut harus didukung dengan beberapa upaya,
diantaranya :
¨
Bantuan
kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah
menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan. Di
Indonesia salah satunya berbentuk BLT.
¨
Bantuan
terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk
mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman,
pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
¨
Persiapan
bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang
miskin, banyak negara sejahtera menyediakan
bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin,
seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat
orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan
kesehatan. Persiapan bagi yang lemah juga dapat berupa
pemberian pelatihan sehingga nanti yang bersangkutan dapat membuka usaha secara
mandiri.
Resep untuk sukses pada umumnya sama: menjaga
stabilitas makro ekonomi dan inflasi rendah; memastikan pasar tenaga kerja
berfungsi dengan baik, sehingga pertumbuhan benar-benar meningkatkan lapangan
kerja dan upah. Caranya antara lain dengan diversifikasi ekonomi; pembangunan
industri manufaktur dan jasa; serta kebijakan sosial yang proaktif di sektor
kesehatan dan pendidikan."Menurunkan ketimpangan bisa dilakukan. Ini bukan
impian", ujar Ferreira.
Ø Penutup/Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa data dari beberapa lembaga dan sumber
diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di Dunia akan semakin
berkurang jika Tingkat Indeks Pembangunan manusia dibarengi dengan menjaga stabilitas makro ekonomi dan inflasi rendah;
memastikan pasar tenaga kerja berfungsi dengan baik, sehingga pertumbuhan
benar-benar meningkatkan lapangan kerja dan upah.
Masyarakat Dunia pun harus bisa memanfaatkan kekayaan Sumber
Daya Alam yang mereka miliki di setiap negara dengan memaksimalkan sumber daya
manusia secara berkelanjutan dan konsisten untuk merubah Indeks Pendapatan
Negara agar tidak terjadi lagi ketimpangan melainkan pemerataan yang lebih baik
lagi agar bisa mencapai tujuan bersama yaitu Dunia tanpa Kemiskinan di tahun 2030
nanti.
Maka dari itu mari kita sama-sama untuk senantiasa
meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dan memanfaatkan sebaik mungkin
Sumber Daya Alam yang kita miliki agar terus bisa mengikuti perkembangan zaman .
Perkembangan
teknologi pun bisa mendukung kita dalam berupaya untuk mengentaskan kemiskinan
di dunia dengan cara memanfaatkan teknologi secara bijak dan berkomitmen.
Dan
yang terpenting, jangan pernah lupa untuk senantiasa bersyukur atas apa yang
telah kita miliki.
Ø Daftar
Pustaka/Referensi
Sylke Febrina Laucereno. 2017. Berapa Banyak Orang Miskin di Muka Bumi Ini?. (online) https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3707627/berapa-banyak-orang-miskin-di-muka-bumi-ini diakses tanggal 07 Maret 2018
Rubrik. 2016. Angka Kemiskinan Global Turun, Bank Dunia Puji Indonesia . (online) http://www.dw.com/id/angka-kemiskinan-global-turun-bank-dunia-puji-indonesia/a-35947590 diakses tanggal 10 Maret 2018
Marlina Gilang
Herdhika. 2010. Peranan Pbb Dalam Penyelesaian Permasalahan Krisis Kemanusiaan Di
Somalia. (online) http://diplomacy945.blogspot.co.id/2010/06/peranan-pbb-dalam-penyelesaian.html diakses tanggal 10 Maret 2018
Wikipedia Project. 2018. Kemiskinan
(online) https://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan diakses tanggal 08 maret 2018.
Wikipedia Project.
2018. Indeks Pembangunan Manusia
-online) https://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Pembangunan_Manusia diskases tanggal 08 Maret 2018
Wikipedia Project. 2018. Garis
Kemiskinan. -Online) https://id.wikipedia.org/wiki/Garis_kemiskinan diakses pada tanggal 09 Maret 2018.
Ricky Purnama setiawan. 2017. Apakah yang
dimaksud dengan kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif? . (online) https://www.dictio.id/t/apakah-yang-dimaksud-dengan-kemiskinan-absolut-dan-kemiskinan-relatif/8370 diakses pada tanggal 09 Maret 2018.

Komentar
Posting Komentar